Cileungsi, SuaraBotim.Com – Atap bangunan SMKN 1 Cileungsi, Kabupaten Bogor, ambruk saat kegiatan belajar mengajar berlangsung, Senin (9/9/2025). Akibat insiden tersebut, 26 siswa mengalami luka ringan dan satu siswa dilaporkan mengalami patah tulang.
Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Kabupaten Bogor, Ade Hasrat, mengatakan pihaknya langsung menurunkan satu regu untuk membantu proses evakuasi. Selain itu, rencananya ada tambahan sekitar 15 personel yang dikerahkan guna mempercepat penanganan.
“Informasinya ada empat ruangan yang rusak, terdiri dari dua ruang kelas dan dua ruang pertemuan. Dari 30 murid yang berada di lokasi, 26 dilarikan ke rumah sakit dengan luka ringan. Satu orang mengalami patah tulang, namun sudah mendapat penanganan medis,” jelas Ade kepada SuaraBotim.Com.
Berdasarkan keterangan sementara, ambruknya atap terjadi ketika kegiatan belajar mengajar tengah berlangsung. Kondisi tersebut membuat siswa panik dan berusaha menyelamatkan diri.
“Informasinya, kejadian ini terjadi saat aktivitas belajar-mengajar. Bagian atap bangunan tiba-tiba ambruk sehingga proses pembelajaran dihentikan sementara. Gedung ini untuk sementara tidak bisa digunakan sebelum ada renovasi karena kondisinya masih sangat tidak aman,” tambah Ade.
Ade menjelaskan, bangunan sekolah yang roboh merupakan gedung lama yang dibangun sekitar tahun 2015. Artinya, usia bangunan sudah mencapai 10 tahun.
“Berdasarkan informasi, gedung ini dibangun tahun 2015. Saat ini dindingnya juga sudah miring, sehingga berpotensi menimbulkan robohan susulan. Oleh karena itu, kami sedang melakukan evakuasi barang yang bisa diselamatkan sekaligus menyiapkan opsi pembongkaran terkendali,” ungkapnya.
Untuk sementara, seluruh kegiatan belajar mengajar di SMKN 1 Cileungsi dihentikan. Terkait teknis kelanjutan pembelajaran, BPBD menyerahkan sepenuhnya kepada pihak sekolah.
“Apakah nanti kegiatan belajar akan dipindahkan ke lokasi lain atau seperti apa, itu kewenangan kepala sekolah. Yang jelas, gedung yang terdampak tidak boleh dipergunakan karena sangat berisiko,” tegas Ade.
Hingga saat ini, BPBD bersama pihak terkait masih melakukan asesmen kerusakan dan memastikan keamanan lokasi agar tidak menimbulkan korban tambahan.
(Pandu)







