SUARABOTIM.COM – Ketua Komite Olahraga Masyarakat Indonesia (KORMI) Kabupaten Bogor, Rieke Iskandar, angkat bicara terkait meninggalnya seorang peserta dalam ajang trail run di kawasan Babakan Madang.
Ia menegaskan, olahraga trail run termasuk kategori olahraga ekstrem yang memiliki risiko lebih tinggi dibandingkan olahraga pada umumnya.
Menurut Rieke, setiap peserta yang mengikuti kegiatan trail run wajib mempersiapkan diri secara matang, baik dari segi fisik maupun mental, serta memahami seluruh potensi risiko yang bisa terjadi selama perlombaan.
“Trail run adalah olahraga ekstrem, sehingga risikonya tentu lebih tinggi. Peserta harus benar-benar siap, tidak hanya fisik tapi juga mental, serta memahami faktor-faktor risiko yang ada,” ujarnya kepada SuaraBotim.Com, Senin (30/3/2026).
Selain itu, Rieke juga menyoroti tanggung jawab penyelenggara dalam memastikan aspek keselamatan.
Ia menegaskan, setiap kegiatan trail run, baik dalam bentuk latihan bersama maupun event resmi, wajib mempertimbangkan kesiapsiagaan terhadap kondisi darurat.
“Penyelenggara harus memperhatikan aspek kedaruratan, mulai dari kesiapan tim medis hingga jalur evakuasi. Ini penting untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan,” katanya.
Ia juga menekankan, bahwa setiap kegiatan yang memiliki risiko tinggi wajib mengantongi perizinan resmi.
Proses perizinan tersebut, kata dia, menjadi bagian penting karena melibatkan analisis dampak sosial serta kesiapan penanganan keadaan darurat.
Lebih lanjut, Rieke berharap kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang. Ia mendorong adanya evaluasi menyeluruh dari berbagai pihak terkait, termasuk organisasi olahraga trail run seperti Asosiasi Lari Trail Indonesia (ALTI) dan kepolisian.
“Ke depan harus ada evaluasi bersama, baik di Sentul maupun secara nasional. Perlu disusun petunjuk pelaksanaan (juklak) dan petunjuk teknis (juknis) yang jelas untuk event trail run, agar tidak sembarangan dalam menyelenggarakan kegiatan,” tegasnya.
(Pandu)







