SUARABOTIM.COM – Di balik peluncuran Timnas Football 7 (FA7) Indonesia menuju World Championship 2026 di Honduras, terselip kisah perjuangan seorang anak muda asal Cibinong, Kabupaten Bogor, yaitu Muhammad Rifki Fitri Hata penjaga gawang berusia 18 tahun yang berhasil mewujudkan mimpinya mengenakan seragam Merah Putih di level internasional.
Bagi Rifki, terpilih masuk Timnas FA7 Indonesia menjadi pencapaian besar dalam perjalanan karier sepak bolanya. Sejak kecil, ia memang memiliki impian untuk membela tim nasional, seperti kebanyakan pemain sepak bola lainnya.
“Rasanya senang ya, karena mimpi semua pemain bola itu main di timnas. Walaupun belum dapat kesempatan di timnas 11 lawan 11, mungkin ini jadi awal supaya ke depannya bisa lebih baik lagi buat diri saya sendiri,” ujar Rifki kepada SuaraBotim.Com, Jumat (22/5/26).
Perjalanan Rifki menuju Timnas FA7 Indonesia tidak diraih secara instan. Ia mengaku sudah bermain sepak bola sejak duduk di bangku kelas 4 sekolah dasar. Kini, di usia 18 tahun, proses panjang itu mulai membuahkan hasil.
“Main bola dari kelas 4 SD. Jadi memang sudah lumayan lama dan ada tahapannya juga,” katanya.
Karier sepak bola Rifki dimulai dari Sekolah Sepak Bola (SSB) Cibinong Raya. Dari tempat itulah bakatnya sebagai penjaga gawang mulai terlihat.
Menariknya, Rifki awalnya tidak bercita-cita menjadi seorang kiper. Ia sempat ingin menjadi pemain lapangan seperti anak-anak lainnya. Namun, sebuah momen tak terduga justru mengubah jalan hidupnya di dunia sepak bola.
“Awalnya masuk SSB mau jadi pemain. Waktu itu kipernya lagi enggak latihan, jadi saya coba-coba jadi kiper. Dilihat pelatih mungkin bagus, akhirnya sampai sekarang jadi kiper,” ungkapnya.
Saat ini, Rifki tercatat sebagai pemain Persikabo 1973 di kompetisi Liga 4. Ia juga terus meningkatkan kemampuan demi mengejar cita-cita yang lebih tinggi, termasuk bermain di Liga 1 hingga Timnas Senior Indonesia.
“Target saya pastinya ingin lebih baik dari sekarang. Semoga bisa main di Liga 1, Liga 2, atau bahkan Timnas Senior,” tuturnya.
Menjelang keberangkatan ke Honduras, Rifki menjalani latihan secara rutin. Setelah lulus sekolah, ia memanfaatkan waktu luang untuk meningkatkan kondisi fisik dan kemampuan teknik.
“Pagi latihan gym, sore latihan di lapangan. Diatur saja waktunya,” katanya.
Di balik perjuangannya, ada sosok ibu yang menjadi motivasi terbesar dalam hidup Rifki. Ia mengaku sejak kecil selalu ditemani sang ibu saat berlatih maupun bertanding.
“Motivasi terbesar saya itu ibu. Dari kecil selalu ditemenin ke lapangan, dianter latihan. Makanya saya berterima kasih banget sama ibu,” ucapnya haru.
Dukungan penuh dari kedua orang tua juga menjadi alasan Rifki mampu bertahan hingga berada di titik sekarang. Ia bersyukur karena sejak kecil tidak pernah dilarang bermain sepak bola.
“Orang tua sangat mendukung. Dari kecil saya enggak pernah dihalang-halangi main bola, selalu disupport,” katanya.
Sebagai seorang penjaga gawang, Rifki juga memiliki sosok panutan dalam kariernya. Ia mengidolakan kiper Andritany Ardhiyasa yang menurutnya menjadi inspirasi sejak lama.
Kini, kesempatan membela Timnas FA7 Indonesia menjadi langkah awal bagi Rifki untuk membuka jalan menuju mimpi yang lebih besar. Dari lapangan kecil di Cibinong, ia kini bersiap membawa nama Indonesia ke panggung dunia.
(Pandu)







