SUARABOTIM.COM – Dinas Perikanan dan Peternakan (Diskanak) Kabupaten Bogor mengungkap dugaan penyebab kematian puluhan ikan di Situ Plaza Cibinong.
Berdasarkan hasil pengecekan lapangan dan uji kualitas air, peristiwa tersebut diduga dipicu oleh kondisi lingkungan perairan yang mengalami penurunan kadar oksigen.
Ketua Tim Pengawasan Perikanan Budidaya dan Perikanan Tangkap Diskanak Kabupaten Bogor, Yayan Buduayana menjelaskan, pihaknya telah menurunkan tim yang terdiri dari fungsional Pengendali Hama dan Penyakit Ikan (PHPI) serta pengawas perikanan untuk melakukan pengambilan sampel air dan pemeriksaan langsung di lokasi.
Selain itu, lanjut Yayan, tim juga melakukan wawancara dengan para pemancing yang hampir setiap hari beraktivitas di Situ Plaza Cibinong.
“Dari hasil keterangan tersebut, para pemancing mengaku tidak menemukan adanya kematian ikan dalam jumlah besar,” katanya kepada SuaraBotim.Com, Selasa (28/4/26).
Yayan juga mengucap, para pemancing menduga ikan yang mati kemungkinan merupakan ikan hasil tangkapan yang kemudian dilepas kembali dalam kondisi luka akibat kail.
Namun, Yayan memaparkan, secara karakteristik, Cibinong Situ Plaza merupakan perairan dengan sumber air terbatas yang sebagian besar berasal dari rembesan dan tampungan air hujan. Kondisi tersebut diperparah dengan outlet air yang tertutup, sehingga menyebabkan air cenderung stagnan atau tidak mengalir.
“Dengan kondisi seperti itu, perubahan kecil pada kualitas air akan sangat berpengaruh terhadap biota di dalamnya,” ujarnya.
Hasil uji kualitas air menunjukkan adanya beberapa parameter yang mendekati bahkan melebihi ambang batas normal untuk kehidupan ikan, terutama kadar fosfat (phosphate) yang tinggi. Kandungan fosfat tersebut memicu pertumbuhan alga atau ganggang secara berlebih (algal bloom).
Fenomena ini berdampak pada siklus oksigen di dalam air. Saat alga mati, proses penguraian oleh bakteri meningkat dan membutuhkan oksigen dalam jumlah besar.
Di sisi lain, lanjut Yayan, suhu permukaan air yang tinggi juga membuat kemampuan air dalam mengikat oksigen menjadi berkurang.
“Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan hipoksia atau kekurangan oksigen di dalam air, yang diduga menjadi penyebab kematian ikan,” jelas Yayan.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa kejadian tersebut masih bersifat dugaan dan jumlah ikan yang mati tidak terlalu banyak, yakni hanya puluhan ekor, sehingga dikategorikan sebagai hipoksia ringan.
Yayan juga menambahkan, kondisi air di situ sempat membaik setelah turun hujan, yang menandakan adanya suplai air baru yang membantu meningkatkan kualitas perairan.
Terkait dugaan adanya pencemaran minyak di permukaan air, ia menyebut hal tersebut kemungkinan hanya bersifat sementara dan tidak memberikan dampak signifikan terhadap kematian ikan.
“Berdasarkan hasil uji, faktor yang paling menonjol adalah tingginya kadar fosfat yang memicu aktivitas biologis di dalam air,” tutupnya.
(Pandu)






