SUARABOTIM.COM – Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto melalui Yayasan Gerakan Solidaritas Nasional (GSN) menyalurkan 130 unit becak listrik kepada pengayuh becak yang tersebar di 40 kecamatan di Kabupaten Bogor, Jawa Barat yang juga bertepatan dengan peringatan ulang tahunnya ke-75 pada 17 Oktober 2026 ini.
Ratusan becak itu dibagikan kepada pengayuh becak di Alun-Alun Kabupaten Bogor, Cibinong.
Pasalnya, penyaluran becak listrik di Kabupaten Bogor ini ditengah kejadian kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di sejumlah wilayah Kalimantan yang dilaporkan menjadi persoalan sepanjang Juli hingga Oktober 2026 ini.
Wakil Ketua Umum GSN sekaligus Presiden Becak Listrik, Nanik S Deyang, mengatakan jumlah bantuan di Kabupaten Bogor masih berpotensi bertambah karena terdapat calon penerima yang belum terakomodasi.
“Ada 130, tapi katanya tadi ada kekurangan. Nanti kita tambah lagi, kita akan berikan semua karena enggak banyak,” kata Nanik.
Ia menjelaskan, jumlah bantuan di Kabupaten Bogor relatif lebih sedikit dibandingkan sejumlah daerah lain. Di beberapa kota, penyaluran mencapai 400 hingga 500 unit, sedangkan di sejumlah wilayah di Pulau Jawa jumlahnya rata-rata dapat mencapai 1.000 unit.
Menurut Nanik, penyaluran bantuan di Kabupaten Bogor sengaja bertepatan dengan ulang tahun Prabowo karena Presiden merupakan warga Kabupaten Bogor. Setelah itu, penyaluran dijadwalkan berlanjut ke Kota Sukabumi, Kabupaten Sukabumi, dan Cimahi.
Program becak listrik disebut berangkat dari kepedulian Prabowo terhadap kehidupan pengayuh becak. Nanik menjelaskan, inisiatif tersebut sudah dimulai sejak 2023, sebelum Prabowo menjabat sebagai Presiden, dengan menggunakan dana pribadi.
Ia menceritakan pengalaman Prabowo melihat pasangan suami istri pengayuh becak di Surabaya yang hidup dalam keterbatasan. Saat itu, becak yang digunakan untuk mencari nafkah merupakan kendaraan sewaan, sementara sang suami sedang sakit.
“Bayangkan sudah enggak punya rumah dan becak itu disewa. Sehingga Pak Prabowo pada 2023 berinisiasi dari kantong pribadi beliau untuk memberikan bantuan becak listrik,” ujarnya.
Hingga kini, Nanik menyebut total becak listrik yang telah disalurkan di Indonesia mencapai sekitar 14 ribu unit.
Kendati demikian, program bantuan tersebut tetap perlu dilihat dalam konteks kebutuhan masyarakat yang lebih luas. Bantuan alat transportasi bagi pekerja informal tentu dapat membantu meringankan beban pengayuh becak.
Namun, keberlanjutan program, pemeliharaan kendaraan, akses terhadap layanan perbaikan, serta dampaknya terhadap peningkatan pendapatan penerima juga menjadi hal penting untuk diperhatikan.
Nanik mengatakan pihaknya tidak menetapkan kebijakan khusus. Tarif sepenuhnya diserahkan kepada masing-masing pengayuh becak.
“Enggak ada. Mereka tentukan sendiri aja,” katanya.
Ia juga menyebut becak listrik dapat diisi ulang di rumah dengan kebutuhan daya listrik sekitar 400–500 watt. Menurutnya, kendaraan tersebut relatif mudah digunakan dan dirancang agar tidak mudah mengalami masalah.
Meski demikian, aspek keselamatan, ketahanan baterai, biaya perawatan, serta ketersediaan suku cadang tetap perlu menjadi perhatian agar bantuan tidak justru menimbulkan beban baru bagi penerima.
Nanik mengatakan penyaluran dilakukan melalui kerja sama dengan pemerintah daerah untuk memastikan penggunaan becak listrik tidak menimbulkan persoalan terkait aturan setempat.
Untuk memastikan bantuan tepat sasaran, GSN melakukan pendataan langsung terhadap calon penerima, Nanik menegaskan, bantuan hanya diperuntukkan bagi warga yang memang telah berprofesi sebagai pengayuh becak, bukan mereka yang baru menjadi tukang becak untuk mendapatkan kendaraan tersebut.
“Sebulan sebelum becak diberikan, kita sudah mendata supaya tidak salah memberi,” tutupnya.
(Pandu Maulana)







