SUARABOTIM.COM – Direktorat Polisi Satwa (Ditpolsatwa) Korps Sabhara Baharkam Polri melakukan pemeriksaan awal terhadap puluhan anjing pemburu yang diamankan pasca-insiden tewasnya seorang bocah akibat diduga diserang anjing pemburu di Kecamatan Jasinga, Kabupaten Bogor.
Pembina Ditpolsatwa Korps Sabhara Baharkam Polri, Jeanni Damayanti mengatakan, berdasarkan hasil observasi sementara, seluruh anjing yang diamankan dalam kondisi sehat dan tidak menunjukkan tanda-tanda klinis rabies.
“Untuk saat ini baru dilakukan pengamatan. Dari kondisi umum, semuanya sehat dan tidak ada gejala rabies,” ujar Jeanni kepada SuaraBotim.Com, Senin (8/6/2026).
Meski demikian, pihaknya masih akan melakukan pemeriksaan laboratorium guna memastikan apakah anjing-anjing tersebut benar-benar bebas dari virus rabies. Sampel serum akan dikirim ke Balai Karantina untuk dilakukan pengujian.
“Tetapi kami tetap perlu melakukan diagnosis melalui pemeriksaan serum rabies. Sampelnya akan kami cek di Balai Karantina,” jelasnya.
Dalam tahap awal, Ditpolsatwa Polri berencana mengambil sampel dari empat ekor anjing secara acak. Hasil pemeriksaan laboratorium diperkirakan baru dapat diketahui dalam waktu sekitar satu minggu.
“Rencananya kami mengambil sampel dari empat ekor anjing. Proses pemeriksaannya diperkirakan sekitar satu minggu hingga hasilnya keluar,” katanya.
Jeanni menjelaskan, pengambilan sampel tersebut bertujuan untuk memastikan status kesehatan hewan, khususnya terkait kemungkinan terinfeksi rabies yang merupakan penyakit menular dan dapat berakibat fatal bagi manusia.
“Tujuan pemeriksaan ini untuk menentukan diagnosis apakah hewan tersebut terinfeksi rabies atau tidak, karena rabies merupakan penyakit yang menular dan bisa menyebabkan kematian,” ungkapnya.
Menurutnya, lanjut Jeanni, empat sampel yang akan diuji dipilih secara acak dari puluhan anjing pemburu yang diamankan aparat kepolisian.
“Untuk pengambilan sampelnya dilakukan secara random terlebih dahulu,” ucapnya.
Ia juga menjelaskan, anjing yang digunakan untuk berburu atau pelacak umumnya merupakan anjing ras lokal atau anjing kampung yang telah dilatih.
“Kalau anjing pemburu atau pelacak itu biasanya jenis anjing kampung,” tuturnya.
Berdasarkan pengamatan visual, Jeanni memastikan belum ada satu pun anjing yang menunjukkan ciri-ciri klinis rabies.
Ia menyebut, hewan yang terinfeksi rabies biasanya memiliki perilaku tertentu, seperti takut air, sensitif terhadap cahaya atau cuaca, takut terhadap manusia, hingga posisi ekor yang terus menjuntai ke bawah.
“Kalau dari kasat mata belum ada yang terindikasi rabies. Biasanya gejalanya takut air, takut cahaya atau cuaca, melihat orang menjadi takut, dan ekornya selalu ke bawah. Sampai saat ini kami belum menemukan gejala seperti itu,” pungkasnya.
(Pandu)







