SUARABOTIM.COM – Seorang pria yang diduga merupakan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) berinisial A (27), pelaku pembacokan terhadap tetangganya di Kecamatan Cariu, Kabupaten Bogor, diketahui berasal dari keluarga kurang mampu.
Kapolsek Cariu, Kompol Agustus Hidayat mengatakan, pelaku memang kerap mengamuk dan diduga mengalami kekambuhan akibat tidak lagi mengonsumsi obat-obatan yang biasa diberikan.
“Iya, sering mengamuk. Mungkin karena obatnya habis. Dulu juga pernah dibawa ke rumah sakit jiwa,” ujar Kompol Agustus kepada SuaraBotim.Com, Jumat (5/6/2026).
Menurutnya, Pemerintah Desa setempat sebelumnya telah membantu proses pengobatan pelaku. Namun, karena keterbatasan ekonomi, pihak keluarga tidak mampu melanjutkan perawatan secara rutin.
“Pelaku berasal dari keluarga yang tidak mampu. Untuk membiayai pengobatan secara terus-menerus juga kesulitan. Bahkan untuk kebutuhan makan sehari-hari saja mereka susah,” ungkapnya.
Kompol Agustus menjelaskan, usai peristiwa pembacokan yang terjadi pada Selasa (2/6/26) sekitar pukul 14.30 WIB, pihak kepolisian langsung berkoordinasi dengan rumah sakit jiwa untuk memastikan kondisi kejiwaan pelaku.
Hasil pemeriksaan menyebutkan bahwa pelaku mengalami gangguan mental yang membutuhkan penanganan intensif, sehingga kini telah kembali menjalani perawatan di rumah sakit jiwa.
“Kami sudah berkoordinasi dengan rumah sakit jiwa. Memang kondisinya sedang mengalami stres dan harus dirawat. Jadi sekarang kami titipkan untuk mendapatkan perawatan di sana,” jelasnya.
Sementara itu, korban yang juga berinisial A, diketahui merupakan tetangga pelaku. Saat kejadian, korban tengah berbelanja di sebuah warung sebelum tiba-tiba diserang menggunakan senjata tajam.
Akibat serangan tersebut, lanjut Kapolsek Cariu, korban mengalami luka serius di bagian belakang tubuh dan harus menjalani tindakan operasi.
“Korban pada hari Rabu kemarin sudah menjalani operasi untuk penanganan luka-lukanya. Saat ini masih berada di rumah sakit dan sedang dalam masa pemulihan,” tutup Kompol Agustus Hidayat.
Peristiwa ini menjadi perhatian masyarakat setempat sekaligus mengingatkan pentingnya akses layanan kesehatan jiwa, terutama bagi keluarga kurang mampu, agar pasien ODGJ dapat memperoleh pengobatan dan pendampingan secara berkelanjutan.
(Pandu)






