Bojonggede, SuaraBotim.Com — Kasus kematian tragis Muhamad Arrasya Alfarizky (6), bocah asal Bojonggede, Kabupaten Bogor, mulai terungkap berkat kepekaan seorang relawan pemandi jenazah bernama Sugeng, yang menemukan banyak kejanggalan pada tubuh korban saat proses pemulasaraan.
Sugeng menceritakan, awalnya ia menerima informasi bahwa korban meninggal dunia karena demam tinggi, sebagaimana tercatat dalam formulir kematian yang diterimanya. Namun, kecurigaan muncul ketika ia membuka kain penutup jenazah dan menemukan sumpalan tisu di dalam mulut korban.
“Saya buka kainnya, dan menemukan sumpalan tisu di mulut korban. Ternyata itu untuk menahan darah agar tidak keluar lebih banyak, karena ada luka robek di bagian bibir bawah,” ujar Sugeng kepada wartawan, Kamis (23/10/25).
Meski awalnya mengira penyebab kematian karena sakit, Sugeng memutuskan berkoordinasi dengan keluarga untuk memastikan siapa yang berhak memandikan jenazah.
Ia pun memanggil ayah korban dan seorang perempuan yang disebut sebagai ibu, yang belakangan diketahui adalah ibu tiri korban.
“Saya tidak tahu kalau ibu yang datang itu ibu sambung. Berdasarkan data yang saya terima, anak ini meninggal karena panas tinggi. Tapi saat saya memandikan, saya lihat banyak luka lebam di beberapa bagian tubuhnya. Itu membuat saya bertanya-tanya,” ungkapnya.
Kecurigaan semakin kuat ketika Sugeng menanyakan langsung kepada ayah korban mengenai asal-usul luka dan lebam di tubuh anak tersebut. Namun, jawaban sang ayah membuatnya heran.
“Saya tanya ke ayahnya, katanya anaknya kejedot pintu dan jatuh di kamar mandi. Tapi dari luka-lukanya, itu tidak wajar. Kalau jatuh kan biasanya hanya di satu bagian tubuh, tapi ini hampir di seluruh badan,” jelasnya.
Saat memandikan jenazah, Sugeng juga menemukan benjolan besar di bagian belakang kepala korban, bahkan terdapat luka robek di setiap benjolan, membuat bentuk kepala tidak normal.
“Ketika memegang kepala bagian belakang, saya kaget karena banyak benjolan besar dan sobek. Hati saya sangat prihatin melihat kondisi anak sekecil itu,” ujarnya dengan nada haru.
Setelah jenazah selesai dimandikan dan dikafankan, Sugeng sempat menawarkan mobil ambulans gratis dari yayasannya untuk membawa jenazah ke tempat pemakaman umum (TPU).
Namun, kata Sugeng, ayah korban menolak dan memilih membawa jenazah menggunakan sepeda motor.
“Saya sempat menawarkan ambulans gratis, tapi ditolak. Jenazah akhirnya dibawa dengan dua motor oleh keluarga,” ucapnya.
Dalam perjalanan menuju makam, Sugeng mengaku dilanda kegelisahan karena merasa ada yang tidak wajar dengan kondisi tubuh korban. Meskipun secara etika pemandi jenazah tidak diperbolehkan menceritakan hal yang dilihat, ia merasa harus menyampaikan fakta yang mencurigakan itu demi keadilan bagi sang anak.
“Saya memutuskan untuk bicara karena luka-luka di tubuh anak itu tidak wajar. Saya yakin ini bukan karena jatuh, tapi karena penganiayaan,” tegasnya.
Setelah proses pemakaman, kecurigaan Sugeng terbukti benar. Seorang warga datang dan menyampaikan bahwa sudah ada dugaan kekerasan dari orang tua korban sebelum kematian terjadi.
“Ada seorang ibu datang dan bilang, ‘ini sudah dikubur? Saya terlambat, karena anak ini diduga dianiaya orang tuanya’. Saat itu saya langsung yakin dengan apa yang saya lihat dan akhirnya kami sepakat melaporkannya ke pihak berwajib,” kata Sugeng.
Laporan resmi dilakukan pada hari yang sama setelah pemakaman, untuk menghindari kemungkinan pelaku melarikan diri. Polisi kemudian bergerak cepat mengamankan ibu tiri korban berinisial RN (30), yang kini telah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus penganiayaan anak hingga meninggal dunia tersebut.
(Pandu)







