SUARABOTIM.COM _ Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Jawa Barat (Jabar) klaim Jabar menjadi provinsi terbaik dalam penanganan Tuberkulosis (TBC) di Indonesia.
Hingga saat ini, capaian penemuan dan penanganan kasus TBC di Jawa Barat telah menyentuh angka 234 ribu kasus atau sekitar 96 persen dari target yang ditetapkan.
Kepala Dinkes Jabar, Dr Vini Adiani Dewi menjelaskan, tingginya angka temuan kasus bukan berarti kondisi semakin buruk, melainkan menunjukkan keberhasilan dalam upaya deteksi dini.
“Jawa Barat saat ini menjadi provinsi terbaik, termasuk Kabupaten Bogor. Dalam penanganan TBC, semakin banyak kasus ditemukan justru semakin baik, karena artinya kasus tersebut bisa segera ditangani dan diturunkan penularannya,” ujarnya kepada SuaraBotim.Com di Cibinong, Kamis (26/2/26).
Menurutnya, dari setiap 100 persen target kasus yang harus ditemukan, saat ini sudah tercapai sekitar 94,5 persen. Namun masih terdapat sekitar 5 persen kasus yang belum terdeteksi dan menjadi fokus pencarian aktif oleh petugas kesehatan.
Sebagai langkah percepatan eliminasi TBC, Dinkes Jabar menerapkan strategi pelacakan (tracking) dan pemeriksaan menyeluruh terhadap keluarga pasien. Setiap penderita TBC yang terdiagnosis wajib diikuti dengan pemeriksaan seluruh anggota keluarga.
“Setiap pasien yang didiagnosis TBC, keluarganya harus ikut di-screening. Minimal 100 penderita TBC yang sedang menjalani pengobatan, seluruh keluarganya dilakukan pemeriksaan,” jelasnya.
Pemeriksaan dilakukan secara terjadwal di fasilitas kesehatan seperti puskesmas dan desa, dan seluruh layanan tersebut diberikan secara gratis.
Langkah ini dinilai penting karena penularan TBC paling sering terjadi di lingkungan keluarga. Meski demikian, Dr Vini menegaskan, bahwa TBC memang menular, namun tidak mudah menular selama penanganan dan pencegahan dilakukan dengan benar.
“Jangan sampai ada stigma di masyarakat. Jarang sekali satu keluarga semuanya terkena TBC. Tapi pencegahan tetap harus diutamakan,” jelasnya.
Selain pemeriksaan gratis, pasien TBC juga mendapatkan dukungan tambahan berupa bantuan biaya transportasi dan gizi. Di wilayah Kecamatan Caringin, dengan dukungan organisasi Stop TB Partnership Indonesia (STPI), pasien TBC Resisten Obat (TB RO) sempat menerima bantuan sebesar Rp600 ribu per bulan.
Namun, pada tahun ini bantuan tersebut disesuaikan menjadi sekitar Rp200 ribu per bulan karena cakupan wilayah penerima manfaat diperluas dari sebelumnya 4 kabupaten/kota menjadi 14 kabupaten/kota.
(Pandu)







