SUARABOTIM.COM – Jumlah pengangguran di Kabupaten Bogor mencapai sekitar 218 ribu orang tahun 2026. Kondisi tersebut menunjukkan berbagai program penyerapan tenaga kerja, seperti job fair dan pelatihan Balai Latihan Kerja (BLK), belum mampu menekan angka pengangguran secara signifikan.
Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Bogor, Nana Mulyana, mengatakan berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat pengangguran terbuka (TPT) Kabupaten Bogor berada di angka 7,69 persen.
Meski secara persentase angka tersebut lebih rendah dibandingkan sejumlah daerah di sekitar Kabupaten Bogor, jumlah pengangguran secara absolut tetap tinggi karena besarnya jumlah penduduk dan angkatan kerja.
“Kalau persentasenya sebenarnya lebih kecil dari Kota Bogor, Kota atau Kabupaten Bekasi, yaitu di angka 7,69. Tetapi secara absolut, karena jumlah angkatan kerja dan penduduk kita padat, ternyata diperoleh 218.000 pengangguran yang tercatat di BPS,” kata Nana.
Menurut Nana, job fair dan pelatihan BLK memang tetap memberikan manfaat bagi pencari kerja, tetapi kapasitasnya belum sebanding dengan jumlah pengangguran yang ada.
Dalam kegiatan job fair yang baru digelar, tercatat 53 perusahaan berpartisipasi dengan ribuan lowongan kerja. Sementara jumlah pencari kerja yang mendaftar secara online mencapai lebih dari 5.000 orang.
Namun, jumlah tersebut masih sangat kecil jika dibandingkan dengan total pengangguran yang mencapai 218 ribu orang.
“Kalau saya pikir efektif. Tapi dari jumlah, kuantitas, untuk menekan angka pengangguran, itu tidak,” ujar Nana.
Hal serupa terjadi pada program pelatihan BLK Kabupaten Bogor. Setiap tahun, kapasitas pelatihan hanya mampu menjangkau sekitar 1.000 orang melalui berbagai program pelatihan kerja. “Kalau seribu kali lima tahun baru lima ribu. Kembali ke angka 218 ribu,” ungkapnya.
Nana menilai, kondisi tersebut menunjukkan bahwa job fair dan BLK saja tidak cukup untuk menyelesaikan persoalan pengangguran di Kabupaten Bogor. Dibutuhkan penciptaan lapangan kerja dalam jumlah besar agar mampu menyerap angkatan kerja yang terus bertambah.
“Memang kalau sektor manufaktur formal ini ada kecenderungan penurunan lapangan pekerjaan,” katanya.
Dengan jumlah pengangguran yang mencapai 218 ribu orang, Disnaker Kabupaten Bogor mendorong adanya perluasan kesempatan kerja, termasuk pengembangan sektor informal dan tenaga kerja mandiri.
(Pandu)







