SUARABOTIM.COM – Dodi Mulya Wibawa resmi dilantik sebagai Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Persatuan Pencak Silat Indonesia (PPSI) Kabupaten Bogor yang digelar di Gedung Tegar Beriman, Cibinong, Kabupaten Bogor, pada Sabtu (11/4/2026).
Pelantikan tersebut dirangkaikan dengan pembukaan Pasanggiri Seni Ibing Pencak Silat Piala Ketua DPD PPSI Kabupaten Bogor.
Ajang ini diikuti sebanyak 132 peserta dari seluruh wilayah Kabupaten Bogor, yang bertanding dalam berbagai kategori, mulai dari tunggal anak putra-putri, ganda putra-putri, hingga regu usia dini, pra remaja, remaja, dan dewasa.
Ketua DPD PPSI Kabupaten Bogor, Dodi Mulya Wibawa menyampaikan, kegiatan ini bukan sekadar pelantikan, melainkan momentum kebangkitan dan pelestarian budaya pencak silat tradisional atau ibing buhun.
“Kegiatan hari ini adalah pelantikan Ketua DPD PPSI Kabupaten Bogor sekaligus pembukaan pasanggiri pertama untuk kejuaraan seni ibing pencak silat tingkat kabupaten,” ujarnya kepada SuaraBotim.Com.
Ia menjelaskan, pelantikan ini juga mengusung istilah kearifan lokal yakni “ngistrenan pupuhu”, yang memiliki makna mendalam sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi dan leluhur.
“Istilah ngistrenan ini sengaja kami angkat untuk mengingatkan kembali bahwa PPSI tidak lepas dari budaya. Ini adalah bentuk pelestarian warisan leluhur atau karuhun yang harus terus dijaga,” jelasnya.
Menurut Dodi, PPSI berperan sebagai wadah bagi berbagai perguruan pencak silat tradisional seperti Cimande, Sera, hingga Sabandar. Organisasi ini bertanggung jawab menjaga keberlangsungan seni ibing buhun agar tidak punah di tengah perkembangan zaman.
Ia juga menyinggung, sejarah kejayaan Bogor di masa lalu sebagai pusat Kerajaan Pajajaran dengan sosok legendaris Prabu Siliwangi. Melalui konsep ngistrenan, generasi muda diharapkan kembali mengenal akar budaya dan sejarah daerahnya.
“Bogor dulu merupakan pusat kejayaan. Kita ingin anak-anak muda tahu bahwa di Jawa Barat ini pernah berdiri kerajaan besar Pajajaran,” ungkapnya.
Dodi mengakui, tantangan terbesar saat ini bukan hanya melestarikan pencak silat, tetapi juga menarik minat generasi muda, khususnya Gen Z. Untuk itu, PPSI Kabupaten Bogor mengadopsi berbagai strategi modern.
“Kami tidak langsung mengenalkan sisi mistiknya, tapi melalui pendekatan digital seperti TikTok, Facebook, dan media sosial lainnya. Silat harus mengikuti perkembangan zaman,” katanya.
Selain itu, PPSI juga aktif menampilkan pertunjukan di ruang publik seperti Car Free Day yang digelar besok Minggu (12/4/2026) di Cibinong agar pencak silat lebih dikenal luas oleh masyarakat.
“Kita ingin pesilat ditonton masyarakat luas, bukan hanya oleh sesama pesilat atau keluarga saja. Makanya kita libatkan berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, Dinas Kebudayaan, KORMI, hingga TNI-Polri,” tambahnya.
Pendekatan lain yang dilakukan adalah melalui kegiatan non-formal seperti jambore, camping, hingga komunitas kreatif untuk membangun kedekatan dengan anak muda sebelum memperkenalkan latihan silat secara intensif.
Dodi juga menegaskan, komitmennya untuk mengubah stigma negatif terhadap pesilat yang selama ini dianggap kumuh, mistis, dan kuno.
“Saya ingin mengubah image pesilat menjadi sosok yang cantik, ganteng, lincah, dan humanis. Silat itu budaya, tapi cara penyampaiannya harus modern,” tegasnya.
Ia menambahkan, pelestarian pencak silat juga memiliki dampak ekonomi. Dengan semakin banyaknya peminat, maka ekosistem seni seperti nayaga, pelatih, hingga pelaku seni lainnya juga akan ikut hidup.
“Kalau banyak yang belajar, maka akan muncul perputaran ekonomi. Tapi kalau tidak, silat bisa punah,” ujarnya.
Lebih lanjut, Dodi menekankan, keberadaan PPSI hingga ke pelosok kampung menjadi kekuatan penting dalam menjaga budaya sekaligus menjadi benteng moral masyarakat.
“Pesilat PPSI ini ada di kampung-kampung. Mereka adalah benteng negara berbasis budaya. Kalau sampai terkontaminasi paham negatif, itu sangat berbahaya,” katanya.
Untuk itu, pihaknya berkomitmen memperkuat sinergi dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah dan Dinas Kebudayaan, guna memastikan pembinaan pencak silat berjalan optimal.
“Alhamdulillah, kami mendapat dukungan penuh dari Dinas Kebudayaan. Ini penting, karena tanpa sinergi akan sulit berjalan,” pungkasnya.
Dengan semangat pelestarian budaya dan adaptasi terhadap era digital, DPD PPSI Kabupaten Bogor di bawah kepemimpinan Dodi Mulya Wibawa optimistis mampu membawa pencak silat kembali berjaya dan dicintai generasi muda.
(Pandu)







