Cibinong, SuaraBotim.Com – Kecamatan Cibinong menempati urutan ke-7 sebagai wilayah dengan jumlah anak putus sekolah terbanyak di Kabupaten Bogor.
Berdasarkan data terbaru Tahun Ajaran 2025, tercatat sebanyak 59.778 anak usia sekolah di Kabupaten Bogor terancam putus sekolah.
Informasi tersebut bersumber dari laman Pusat Data dan Teknologi Informasi (Pusdatin) Kemendikbudristek RI yang diakses oleh Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) di Kabupaten Bogor.
Kepala Bidang Sarana dan Prasarana (Sarpras) Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor, Yanto Pradipta, mengatakan bahwa persoalan anak putus sekolah merupakan isu nasional yang juga menjadi perhatian pemerintah daerah.
“Memang ini sudah menjadi isu nasional. Salah satu indikator Standar Pelayanan Minimal (SPM) pendidikan adalah rata-rata lama sekolah, dan di Kabupaten Bogor angkanya masih tergolong rendah,” ujar Yanto kepada SuaraBotim.Com, Kamis (9/10/25).
Yanto menjelaskan, salah satu upaya untuk menekan angka putus sekolah adalah mendorong anak-anak yang tidak bersekolah agar mau kembali belajar, baik di jalur formal maupun non-formal.
“Untuk usia produktif, kami arahkan agar kembali ke sekolah formal seperti SMP atau SMA. Sementara untuk yang sudah di atas usia sekolah, kami tempatkan di PKBM di setiap kecamatan,” jelasnya.
Menurutnya, penanganan anak putus sekolah tidak bisa dilakukan oleh Dinas Pendidikan semata. Diperlukan sinergi antara berbagai pihak, mulai dari kecamatan, desa, kelurahan hingga RT dan RW.
“Tahun ini kami fokus pada pendataan dulu. Kami bekerja sama dengan pihak kecamatan dan desa untuk mendata anak-anak yang tidak sekolah agar nantinya bisa didorong kembali ke sekolah,” katanya.
Yanto menambahkan, faktor penyebab anak putus sekolah di Kabupaten Bogor beragam. Selain karena minat belajar yang rendah, banyak pula yang terkendala faktor ekonomi dan seleksi Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB).
“Ada anak-anak yang memang tidak mau sekolah, ada juga yang karena faktor ekonomi. Selain itu, ada yang tidak diterima di sekolah negeri lalu memilih menunggu tahun berikutnya, sehingga akhirnya tidak melanjutkan sekolah,” tutupnya.
(Pandu)







