Cibinong, SuaraBotim.Com – Dalam dua bulan terakhir, harga beras premium di Pasar Cibinong mengalami kenaikan signifikan. Kenaikan harga ini diduga dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari isu beras oplosan hingga keterlambatan panen akibat cuaca yang tidak menentu.
Agus Susanto (37), salah satu pedagang beras di Pasar Cibinong yang telah berjualan sejak 2015, membenarkan adanya kenaikan harga.
Menurutnya, harga beras premium naik sekitar Rp300 hingga Rp500 per kilogram dalam dua bulan terakhir.
“Kebanyakan pembeli memang mengeluh soal harga yang naik, tapi ya mereka tetap beli juga. Kenaikannya bervariasi, terutama dari jaringan pemasok, bukan dari harga eceran langsung,” ujar Agus, Kamis (17/7/25).
Agus menyebut, bahwa kenaikan terjadi pada hampir semua jenis beras, terutama beras premium dan medium.
“Kalau yang standar dulunya Rp12 ribu sudah bagus banget, sekarang kualitasnya menurun sedikit meski harganya tetap atau naik tipis,” jelasnya.
Bahkan, perbedaan harga bisa mencapai Rp10.000 hingga Rp20.000 per karung. Untuk pembelian eceran, selisihnya memang tidak terlalu terasa, namun pada pembelian karungan, dampaknya cukup signifikan.
Lebih lanjut, kata dia, beberapa pembeli mulai mengeluhkan perbedaan kualitas beras yang mereka beli.
“Dari warnanya saja kadang sudah terlihat kekuningan. Ada yang bilang rasanya beda, makanya mereka curiga soal isu beras oplosan,” katanya.
Agus sendiri mengaku belum tahu secara pasti kebenaran isu beras oplosan yang marak di sejumlah wilayah.
“Saya sih cuma dengar aja dari pembeli, katanya merk tertentu yang sering dioplos. Tapi saya sendiri belum lihat langsung, karena itu dari Cipinang biasanya, sebagai pemasok utama,” ujarnya.
Selain harga, jumlah pembeli juga mengalami sedikit penurunan. Agus menduga ini karena faktor musiman, terutama saat musim masuk sekolah, di mana pengeluaran rumah tangga meningkat untuk kebutuhan pendidikan.
“Memang agak turun sedikit, tapi bukan karena harga aja. Biasanya juga pembeli menyesuaikan pengeluaran saat anak-anak masuk sekolah,” katanya.
Agus menambahkan, bahwa sebagian besar beras yang dijual di Pasar Cibinong berasal dari Pasar Induk Cipinang, Jakarta. Sebagai pusat distribusi utama, perubahan harga di Cipinang sangat memengaruhi harga di pasar-pasar daerah.
“Kalau dari Cipinang naik, ya otomatis kita ikut naik juga. Karena Cipinang itu tangan pertama, belinya juga harus banyak,” tuturnya.
Sebelumnya, Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagin) Kabupaten Bogor Arif Rahman menjelaskan, saat ini di pasar Kabupaten Bogor belum menemukan temuan terkait beras oplosan.
“Sampai saat ini belum ada laporan terkait beras oplosan yang berada di pasar-pasar Kabupaten Bogor,” tutup dia.
(Pandu)







