Sentul, SuaraBotim.Com – Presiden Prabowo Subianto ternyata diam-diam “gerah” setiap kali pulang ke kediamannya di Hambalang. Bukan karena macet, melainkan karena banyaknya spanduk dan baliho iklan yang dipasang serampangan hingga merusak pemandangan.
Hal ini diungkapkan Prabowo dengan nada bicara yang blak-blakan saat memberi arahan di Rakornas Pemerintahan Daerah 2026 di SICC Sentul, Senin (2/2/2026). Ia meminta para kepala daerah segera “bebersih” spanduk iklan yang dinilai sudah keterlaluan.
“Dalam rangka Indonesia Asri, saya minta kepada pemerintah tolong tertibkan iklan-iklan, spanduk-spanduk yang terlalu banyak,” tegas Prabowo di hadapan ribuan pejabat daerah.
Prabowo kemudian menceritakan pengalaman pribadinya saat melintasi jalur menuju Hambalang, Kabupaten Bogor. Ia mengaku heran kenapa iklan makanan saja harus memakai ruang yang begitu besar dan mencolok.
“Kalau saya naik ke Hambalang, spanduk-spanduk ayam goreng pesan satu dapat satu free, kenapa harus besar-besar sih?” sentilnya yang disambut tawa tipis para peserta.
Bagi Prabowo, Bogor punya nilai historis yang tinggi. Ia bercerita bagaimana Bung Karno dulu lebih memilih tinggal di Bogor ketimbang Jakarta karena keindahannya. Kecintaan yang sama itulah yang membawanya juga memilih tinggal di Bogor, bahkan setelah menjabat sebagai Presiden.
“Bogor itu dulu kota paling indah. Bung Karno lebih senang di Bogor daripada Jakarta. Dari dulu saya ingin tinggal di Bogor, ya akhirnya jadi Presiden tinggal di Bogor,” ungkapnya bernada nostalgia.
Meski mengakui spanduk adalah sumber pajak daerah, Prabowo meminta pemerintah daerah untuk mulai berkomunikasi dengan para pengusaha, Kadin, hingga HIPMI agar pemasangannya tidak berlebihan. Ia ingin estetika kota tetap terjaga tanpa harus membunuh dunia usaha.
Tak hanya soal spanduk, “sampah visual” lain yang menjadi sorotan tajam Presiden adalah kabel listrik yang seliweran tak beraturan.
“Ini untuk kita semua, kabel-kabel listrik yang seliweran, segera dibereskan. Kita ingin daerah kita ini tertata dan nyaman dipandang,” pungkasnya.
(Retza)







