Gunung Putri – Situ Citongtut yang berada di Desa Cicadas, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor, diduga tercemar limbah industri.
Dugaan pencemaran tersebut ditandai dengan matinya berbagai jenis ikan yang mengapung di permukaan situ sejak Sabtu (24/1/2026).
Inisiator Gerakan Pungut Sampah (GPS), Aditia Putra mengatakan, fenomena kematian ikan mulai terlihat sejak Jumat (23/1/2026), setelah wilayah tersebut diguyur hujan dengan intensitas tinggi sejak Kamis malam.
“Awalnya itu hujan deras dari Kamis malam sampai Jumat. Hari Jumat sudah mulai terlihat perubahan, warna airnya berubah. Nah, hari Sabtu itu sudah banyak ikan yang mati,” ujar Aditia kepada SuaraBotim.Com, Senin (26/1/2026).
Menurutnya, ikan-ikan tersebut diperkirakan telah mati selama kurang lebih dua hari. Seiring meningkatnya curah hujan, kondisi air memang berangsur membaik, namun hamparan ikan mati masih terlihat jelas.
“Yang mati itu kurang lebih dua harian. Karena hujan terus, baku mutu airnya mulai membaik lagi. Tapi dari indikasinya, ini bukan fenomena alam atau sekadar turbulensi air akibat hujan,” jelasnya.
Aditia menduga kuat pencemaran tersebut berasal dari limbah industri yang dibuang secara ilegal ke aliran air yang bermuara ke Situ Citongtut.
“Ini kami indikasi kuat akibat ulah perusahaan-perusahaan nakal yang punya kran bebas untuk buang limbah. Mereka tidak menggunakan pihak ketiga pengelola limbah demi menekan biaya,” tegasnya.
Lebih lanjut, Aditia menyebut ikan yang mati tidak hanya satu jenis. Meski ikan sapu-sapu mendominasi, sejumlah ikan lain yang hidup di situ juga ikut terdampak.
“Bukan cuma sapu-sapu. Ada ikan sepat, betok, mujair, gabus. Bahkan ikan lele yang baru ditanam warga di keramba ikut mati. Belut juga mati,” ungkapnya.
Ia menegaskan, kematian ikan lintas jenis tersebut menjadi bukti kuat bahwa pencemaran air di Situ Citongtut bersifat serius dan bukan kejadian alami.
“Berbagai jenis habitat ikan air di sini ikut mati semua. Ini yang menjadi perhatian serius kami,” pungkasnya.
(Pandu)







