Klapanunggal, SuaraBotim.com – Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat mencatat penemuan kasus tuberkulosis (TBC) di wilayahnya sebagai yang tertinggi secara nasional. Namun, tingginya temuan ini dinilai sebagai hal positif karena mempercepat pemutusan rantai penularan.
“Semakin banyak ditemukan, semakin bagus. Karena cara mencegah penularan TBC adalah dengan menemukan sebanyak-banyaknya penderita, lalu langsung diobati,” tegas Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat, dr. R. Vini Adiani Dewi, kapada SuaraBotim.com, Selasa (10/06/2025).
Vini menyebut, tahun ini Jawa Barat ditargetkan menemukan 234 ribu kasus aktif TBC. Ia mengakui, pasien TBC kerap menunda berobat hingga gejalanya parah. Padahal, pengobatan bisa dilakukan lebih awal dan sepenuhnya ditanggung pemerintah.
“Obat TBC itu gratis. Tapi kalau pasien berhenti minum obat di tengah jalan, itu justru berbahaya. Bisa menyebabkan resistensi obat, pengobatan bisa sampai 18 bulan,” jelasnya.
Vini juga mengingatkan para dokter praktik mandiri dan klinik untuk tidak meresepkan obat TBC secara pribadi, karena biayanya sangat mahal. “Silakan koordinasi dengan puskesmas, karena obat TBC dari pemerintah tersedia gratis dan lengkap,” katanya.
Menanggapi tingginya angka TBC di wilayahnya, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor, dr. Fusia Meidiawaty, mengungkapkan bahwa hal itu sebanding dengan populasi Kabupaten Bogor yang besar.
“Penduduk kita sangat besar, otomatis temuan kasus juga tinggi. Tapi dari sisi proporsi terhadap jumlah penduduk, kita masih terkendali,” ujarnya.
Menurut Fusia, pihaknya aktif melakukan penemuan kasus melalui skrining dan penyuluhan, terutama di wilayah padat penduduk seperti Cibinong dan Jonggol. “Kami dorong masyarakat yang mengalami batuk lebih dari dua minggu, demam, atau berat badan turun, segera periksa. Pemeriksaan dan pengobatan gratis di puskesmas dan klinik mitra,” tegasnya.
Fusia juga menambahkan bahwa fasilitas pendukung penanganan TBC di Kabupaten Bogor memadai dan terus ditingkatkan. “Kasus-kasus yang membutuhkan konfirmasi lab sudah dikirim ke labkesda, dan seluruh pasien dalam pemantauan aktif. Jika kondisi stabil, sebagian besar bisa rawat jalan,” pungkasnya.
Arsyit Syarifudin







