Saturday, June 13, 2026
Suara Botim | Bogor Timur
No Result
View All Result
  • Login
  • Suara Desa
  • Suara Pendidikan
  • Suara Bogor
  • Peristiwa
  • Wisata dan Kuliner
  • Hukum dan Kriminal
  • Kesehatan
  • Olahraga
  • Suara Desa
  • Suara Pendidikan
  • Suara Bogor
  • Peristiwa
  • Wisata dan Kuliner
  • Hukum dan Kriminal
  • Kesehatan
  • Olahraga
No Result
View All Result
Suara Botim
No Result
View All Result
Home Suara Bogor

Konflik Data Hutan Jabar: Bencana Ekologis Mengancam di Tengah Ratusan Titik Tambang Liar

by Arsyit Syarifudin
December 12, 2025
in Suara Bogor
0
Konflik Data Hutan Jabar: Bencana Ekologis Mengancam di Tengah Ratusan Titik Tambang Liar

Yusfitriadi Founder Visi Nusantrara Maju

Share on FacebookShare on Twitter

SUARABOTIM.COM – Sudah hampir bisa dipastikan faktor utama bencana ekologis di Pulau Sumatra diakibatkan oleh deforestasi dan eksploitasi alam yang dilakukan secara brutal dengan waktu yang cukup lama. Sehingga masyarakat di Sebagian besar Provinsi Aceh, sebagian wilayah di provinsi Sumatra Utara dan Sebagian wilayah di Sumatra barat sekarang harus membayarnya dengan lebih dari 1000 nyawa melayang, ratusan orang masih hilang belum diketahui nasibnya dan hilangnya ribuan tempat tinggal serta rusaknya berbagai infrastruktur di wilayah terdampak bencana tersebut. Kondisi banjir dan tanah longsor di Sumatra sampai saat ini masih terus berlangsung, karena curah hujan yang masih tinggi, sementara tutupan hutan sudah tidak lagi bisa menampung air dengan volume yang cukup tinggi, karena sudah minimnya serapan air di wilayah sumatra tersebut. Kejadian tersebut berpotensi terjadi di Wilayah Jawa termasuk di Provinsi Jawa Barat, karena deforestasi dan esksploitasi melalui aktifitas tambang yang cukup besar dan tersebar di wilayah Jawa Barat.

Kondisi Deforestasi di Jawa barat
Terjadi perbedaan data dalam melihat luas hutan di Jawa Barat. Berdasarkan data dari Kementrian Lingkungan Hidup tahun 2024, Provinsi Jawa Barat Memiliki Hutan seluas 952,68 ribu hektar. Berbeda dengan data statistik Provinsi Jawa Barat tahun 2022, Jawa Barat memiliki hutan seluas 792.616 ribu hektar. Perbedaan terjadi juga pada data Statistik Nasional tahun 2023, luas Kawasan Hutan dan Konservasi Perairan dan Fungsi Hutan seluas 816.603 ribu hektar. Entah data mana yang akan kita anggap valid, karena memang Indonesia selalu bermasalah dengan data dalam berbagai bidang. Sehingga tidak aneh jika kordinasi dan konsolidasi data sangat lemah di Indonesia. Termasuk data kehutanan ini. Namun hutan yang sangat luas di Jawa Barat tersebut sudah menyusut hingga 43 persen dari luas hutan yang ada, hanya dalam kurun waktu dua tahun (2023-2025). Hal tersebuat berdasarkan data dari Wahana Lingkungan Hidup Jawa Barat yang saya kutip dari berbagai sumber media. Tentu saja angka ini yang akan membuat warga Jawa Barat selalu hidup dalam bayang-bayang bencana ekologis seperti yang terjadi di pulau Sumatra saat ini. Dimana bencana ekologis seperti banjir bandang dan tanah longsor seakan seakan sudah di depan mata. Sehingga angka 43 persen penyusutan luas hutan yang terjadi hanya 2 tahun terakhir menjadikan posisi Jawa barat sangat berbahaya. Disinyalir penyusutan dengan jumlah yang sangat besar tersebut didomiasi oleh alih fungsi lahan, baik melalui area aktifitas tambang, wisata, property maupun Kawasan Hutan Dengan Pengelolaan Khusus (KHDPK). Bahkan ironisnya banyak program strategis nasional yang memberikan kontribusi pada penyusutan luas hutan yang seharusnya menjadi konservasi di Jawa barat tersebut. Bahkan Ketua Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Jawa Barat Iwan Wahyudin dalam beberapa media menyatakan kemirisannya bahwa Hak Guna Usaha (HGU) PTPN yang telah habis masa berlakunya, kini banyak yang dijadikan area kondominium hingga wisata yang berkedok ramah lingkungan.

READ ALSO

Bappenda Kabupaten Bogor Perkuat Peran Desa dalam Pendataan Pajak, Targetkan Pendapatan Daerah Meningkat

Desa Gunung Sari Citeureup Krisis Air Bersih, BPBD Kabupaten Bogor Salurkan 5.000 Liter Air

Aktifitas Tambang di Jawa Barat
Selain deforestasi melalui alih fungsi lahan, kontribusi besar atas penyusutan 43 persen luas hutan di Jawa Barat juga diakibatkan oleh aktivitas tambang, baik yang legal maupun illegal (Perusahaan tambang liar). Walhi Jawa Barat menyebut di Jawa Barat ada pada tahun 2024 tidak kurang dari 54 perusahaan tambang yang sudah habis masa berlakunya, namun pemerintah tidak ada upaya untuk bertindak sampai saat ini. Bahkan ada sekitar 176 titik kegiatan tambang liar (ilegal) di Jawa Barat, yang tersebar di beberapa wilayah di Jawa Barat. Di Kabupaten Sumedang 48 titik, di Tasikmalaya 48 titik, di Kabupaten Bandung 37 titik, di Kabupaten Bogor 23 titik, Cianjur 20 titik, Purwakarta 12 titik dan Cirebon 7 titik. Bisa kita bayangkan jika kondisi ini terus dibiarkan oleh pemerintah, tentu setiap tahun berpotensi terus bertambah jumlahnya, baik Perusahaan tambang yang sudah diberikan izin oleh pemerintah, terlebih aktifitas tambang liar (illegal). Jika kondisi ini terjadi maka, ancaman bencana ekolosi sudah semakin tampak dan jelas. Bahkan saat inipun sudah terlihat berbagai bencana ekologis di Jawa Barat seperti banjir dan tanah longsor di beberapa temapt.

Pemerintah Provinsi Jawa Barat tidak Serius
Sebetulnya berbagai data deforestasi dan eksploitasi alam di Jawa barat baik melalui alih fungsi lahan dan aktifitas tambang baik yang legal maupun yang ilegal sudah banyak diinformasikan, baik melalui media maupun jurnal-jurnal ilmiah dari berbagai komponen. Namun sampai saat ini saya tidak melihat keseriusan Pemerintah Provinsi Jawa Barat dalam menanganinya. Bahkan yang sangat “menggelikan” dipertontonkan oleh Gubernur Jawa Barat dengan memberikan konvensasi Rp. 50.000,- bagi Masyarakat yang berani menanam pohon. Pertanyaannya ini program Gubernur Jawa Barat apa program Influenser yang sedang mempertahankan followernya di media sosial ? semakin dipertegas, ketika beberapa wilayah di Jawa barat dilanda banjir dan tanah longsor, Gubernur Jawa Barat malah “asyik ngonten” di Sumatra Barat. Terlihat jelas bahwa Pemerintah Jawa Barat tidak menampakan keseriusannya dalam upaya mitigasi dan antisipasi bencana ekologis. Seharusnya bencana Ekologis yang terjadi di Sumatra menjadi Pelajaran yang sangat berharga untuk serius dalam menata lingkungan terutama Kawasan hutan yang sudah menyusut luasnya 43 persen dalam 2 tahun ini. Mitigasi yang seharusnya dilakukan oleh Pemerintah Jawa barat lebih signifikan dibandingkan dengan menghimbau Masyarakat menanam pohon dengan imbalan Rp. 50.000,-. Mitigasi bencana ekologis bisa dilakukan dengan memverifikasi dan memvalidasi data secara serius terkait deforestasi dan alih fungsi lahan di Jawa barat. Selanjutnya sampaikan kepada publik Perusahaan mana saja yang izinnya sudah habis, Perusahaan mana saja yang melakukan usaha di Kawasan hutan PTPN dan hutan lindung, Perusahaan mana saja yang tidak memiliki izin, Perusahaan tambang siapa saja yang beroperasi secara liar. Sehingga berbagai data yang banyak disampaikan di publik akan mudah terkonfirmasi sebelum melakukan Tindakan pencegahan dan proses hukum bagi Perusahaan yang melanggar hukum dalam proses usahanya.

Tags: Bencana EkologisDeforestasi JabarKritik Gubernur JabarTambang ilegalWALHI

Related Posts

Bappenda Kabupaten Bogor Perkuat Peran Desa dalam Pendataan Pajak, Targetkan Pendapatan Daerah Meningkat
Suara Bogor

Bappenda Kabupaten Bogor Perkuat Peran Desa dalam Pendataan Pajak, Targetkan Pendapatan Daerah Meningkat

June 11, 2026
Desa Gunung Sari Citeureup Krisis Air Bersih, BPBD Kabupaten Bogor Salurkan 5.000 Liter Air
Suara Bogor

Desa Gunung Sari Citeureup Krisis Air Bersih, BPBD Kabupaten Bogor Salurkan 5.000 Liter Air

June 11, 2026
‎Harga Pertamax Naik, Warga Keluhkan Beban Pengeluaran dan Kenaikan Mendadak
Suara Bogor

‎Harga Pertamax Naik, Warga Keluhkan Beban Pengeluaran dan Kenaikan Mendadak

June 10, 2026
‎Pemkab Bogor Kembali Raih Opini WTP dari BPK, Ketua DPRD: Ini Bukti Good Government
Suara Bogor

‎Pemkab Bogor Kembali Raih Opini WTP dari BPK, Ketua DPRD: Ini Bukti Good Government

June 10, 2026
Ketua DPRD Kabupaten Bogor Minta Aktivitas Berburu Dievaluasi Usai Tragedi Bocah Tewas di Jasinga
Suara Bogor

Ketua DPRD Kabupaten Bogor Minta Aktivitas Berburu Dievaluasi Usai Tragedi Bocah Tewas di Jasinga

June 9, 2026
KPAD Kabupaten Bogor Akan Kawal Tuntas Kasus Bocah 9 Tahun Tewas Diserang Anjing Pemburu di Pamijahan
Suara Bogor

KPAD Kabupaten Bogor Akan Kawal Tuntas Kasus Bocah 9 Tahun Tewas Diserang Anjing Pemburu di Pamijahan

June 9, 2026
Next Post
Vinus Gandeng Mahasiswa dan Perhutani, Siap Tanam 7 Ribu Pohon untuk Mitigasi Bencana

Vinus Gandeng Mahasiswa dan Perhutani, Siap Tanam 7 Ribu Pohon untuk Mitigasi Bencana

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Suara Botim | Bogor Timur

Suara Bogor yang inspiratif, inovatif dan keratif. Terpercaya Terlengkap Seputar Politik, Ekonomi, Travel, Teknologi, Otomotif dan Olahraga.

Follow us

Categories

  • Hukum dan Kriminal
  • Kesehatan
  • Life & Style
  • Olahraga
  • Peristiwa
  • Suara Bogor
  • Suara Desa
  • Suara Pendidikan
  • Uncategorized
  • Wisata dan Kuliner

Recent Posts

  • Ribuan Motor Kejahatan Program MBG Parkir di Bogor
  • Gencarkan Pemberdayaan Lokal, Solusi Bangun Indonesia Sabet Penghargaan Forum CSR Jabar 2026
  • Menteri Nusron Ingin Target PTSL Tahun 2027 Ditambah untuk Perluas Kepastian Hukum bagi Masyarakat
  • Pemotor Tewas Terserempet Mobil Saat Pindah Lajur di Parung
  • Redaksi
  • Karir
  • Info Iklan

© 2025 Suara Botim.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Suara Desa
  • Suara Pendidikan
  • Suara Bogor
  • Peristiwa
  • Wisata dan Kuliner
  • Hukum dan Kriminal
  • Kesehatan
  • Olahraga

© 2025 Suara Botim.

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?